Akhirnya pemerintah Indonesia menarget pajak bagi bisnis atau perdagangan yang dijalankan secara e-commerce. Sayangnya sampai sekarang belum ada skema perpajakan yang ditetapkan ataupun besaran tarif pajak untuk e-dagang tersebut. Yon Arsal, Direktur Potensi, Kepatuhan dan Penerimaan Pajak Ditjen Pajak Kementerian Keuangan, menjelaskan bahwa Kementerian Koordinator Perekonomian masih mengkaji soal peta jalan pemajakan e-commerce yang nantinya akan dimasukkan ke dalam paket kebijakan ekonomi ke-14 yang direncanakan akan segera terbit akhir tahun ini.

Yon juga menyebutkan bahwa pihaknya masih belum merilis berapa potensi pajak bisnis online ini. Akan tetapi, dia sudah mengirimkan beberapa orang yang tergabung dalam tim Kemenko Perekonomian untuk melakukan kajian potensi penerimaan pajak yang kira-kira akan diterima nantinya.

Hari Senin kemarin (31/10/2016), Yon mengatakan bahwa berbisnis lewat internet sebenarnya sama saja dengan orang yang berbisnis di Tanah Abang. Hanya saja metode bisnisnya yang berbeda karena satu buka toko dan satunya lagi melalui internet.

Tarif Pajak Untuk E-Commerce Belum Ditetapkan

Tarif Pajak Untuk E-Commerce Belum Ditetapkan

Tidak hanya persoalan mereka yang membuka toko online atau berbisnis lewat internet, saat ini pemerintah juga tengah mengkaji potensi perpajakan yang ada termasuk selebgram. Yon berucap para selebritis pemakai media sosial tersebut seharusnya juga melaporkan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT Tahunan) karena mereka sama saja sebetulnya dengan wajib pajak (WP) lainnya. Selebritis yang memperoleh penghasilan dari endorse perusahaan misalnya dan pemerintah harus memastikan mereka sudah membayar pajak ditambah perusahaan yang memakai jasa selebgram wajib dilakukan pemotongan fee.

“Kalau dilihat prinsipnya sama aja kayak tenaga marketing. Memang (sama-sama) bayar pajak, kenapa rame. Pasti kan, prinsipnya sama. Tidak ada tarif baru khusus selebgram. Mungkin karena selebgram rame di internet makanya rame,” katanya.

Yon mengambil contoh seorang selebritis seperti Ayu Tingting yang menawarkan suatu produk lewat akun Instagramnya. Jika upah yang diterima lewat jasa tersebut sudah dipotong pajak oleh perusahaan pemakai jasa, maka hal itu tidak menjadi masalah. “Nah di sisi lain, Ayu Tingting, dia artis, selebgram, ya harus digabungkan di SPT tahunan. Sama saja. Bisnis doang yang dengan metode berbeda,” terangnya lagi.

Source: republika.co.id


Category: Berita pajak

Tags: , , , , ,