Pembangunan infrastruktur yang gencar namun belum diimbangi dengan tingkat pendapatan yang memadai dari infrastruktur yang dibangun, membuat BUMN Konstruksi yang menjadi pelaksana pembangunan proyek-proyek tersebut mengalami tekanan dari sisi keuangan.

Meski masih mencetak kenaikan laba, namun arus kas BUMN-BUMN ini tampak mulai tergerus. Terlihat dari Debt to Equity Ratio (DER) alias rasio utang terhadap ekuitas yang mengalami kenaikan.

Berkenaan dengan posisi keuangan tersebut, pihak PT Waskita Karya mengaku kondisi tersebut masih dalam taraf yang wajar karena DER perseroan masih jauh di bawah batas rasio utang yang diperkenankan. Mengindikasikan keuangan perusahaan masih dalam tahap yang sehat.

“Dapat disampaikan bahwa rasio utang berbunga terhadap ekuitas (DER) pada posisi September 2017 adalah 1,7 kali. Menurut covenant kredit waskita kepada pihak ketiga, maksimal rasio utang berbunga kepada ekuitas yang diperbolehkan sebesar 3 (tiga) kali,” tegas M Choliq, Direktur Utama Waskita Karya.

Ia menambahkan, perolehan Nilai Kontrak Baru (NKB) Waskita sampai dengan bulan November 2017 sebesar Rp 48,3 triliun, kontrak baru tersebut sebagian besar masih berasal dari proyek infrastruktur khususnya jalan tol, seperti proyek tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung Rp 13 triliun.

Lalu ada pula Proyek Jakarta Cikampek II Elevated Rp 6,2 triliun, Proyek Tol Cibitung Cilincing Rp 5 triliun, Proyek Tol Kunciran Serpong Rp 3,2 triliun dan Proyek Transmisi Muara Enim-New Aurduri Rp 2,8 triliun.

“Dengan nilai kontrak baru tersebut maka total kontrak yang dikelola Waskita sampai dengan November adalah sebesar Rp 130 triliun,” kata dia.

Dengan besarnya total kontrak yang dikelola Waskita saat ini, dibutuhkan struktur pendanaan yang optimal melalui pendanaan jangka pendek dan jangka panjang.

Rata rata bunga kredit pada pendanaan jangka pendek yang mayoritas berasal dari perbankan adalah sebesar 8,6%, dimana rata rata bunga kredit pada pendanaan jangka menengah melalui obligasi adalah 9,15 %.

Pendanaan jangka panjang yang bersifat untuk mendanai investasi proyek jangka panjang mendapatkan rata rata bunga kredit sebesar 11%.

Mekanisme alternatif pendanaan lainnya pada sisi ekuitas seperti penerbitan saham baru pada anak perusahaan dan strategic partnership juga dilakukan Waskita untuk mendukung kegiatan operasional perusahaan.

PT Waskita Karya (Persero) Tbk sedang menawarkan atas konsesi jalan tol yang saat ini dimiliki kepada calon investor.

Cholik mengatakan, masih sehatnya kondisi keuangan Waskita juga karena ditopang dari potensi yang bakal diterima perusahaan atas sejumlah proyek yang sudah rampung dikerjakan.

“Pada tahun 2018 Waskita akan memperoleh pembayaran dari beberapa proyek turnkey yang jatuh tempo. Rencana penerimaan dari proyek turnkey sekitar Rp 30 triliun yang diharapkan berasal dari proyek LRT Palembang dan beberapa proyek jalan tol yang akan selesai di tahun 2018. Sehingga diharapkan aliran dana tersebut dapat memperbaiki profil Arus Kas Operasi,” tandas dia.

Sumber: detikFinance


Category: Berita Bisnis

Tags: , , ,