Skema Impor 1:5 Bisa Merugikan Feedloter

Pemerintah Indonesia telah menetapkan skema impor untuk sapi bakalan yakni 1:5. Artinya, untuk setiap impor sapi bakalan sebanyak 5 ekor, maka pengusaha harus menyediakan 1 ekor sapi indukan.

Rochadi Tawaf selaku Sekretaris Jenderal Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) menyatakan bahwa kebijakan tersebut dapat merugikan pengusaha penggemukan sapi atau feedloter. Hal itu dikarenakan waktu penjualan dua jenis sapi tersebut berbeda. Sapi bakalan hanya membutuhkan waktu 3 bulan penggemukan hingga dijual, sementara untuk sapi indukan sendiri membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Rochadi menjelaskan, jika feedloter memiliki kapasitas kandang untuk 10.000 ekor sapi, maka jika dalam waktu 1 tahun ketika feedloter mengimpor sapi bakalan 3-4 kali, maka kandang-kandangnya telah dipenuhi oleh sapi indukan.

“Tahun kedua dia sudah tidak bisa beriperasi. Pemeliharaan bibit itu rugi, khususnya dalam pembesaran,” tegasnya, Minggu (26/11/2017).

Menurutnya, proses pembesaran sapi mulai dari bunting hingga melahirkan harus dilakukan di padang pengembalaan. Karena itulah biaya yang dikeluarkan dapat ditekan.

Lebih lanjut Rochadi menuturkan bahwa proses pembesaran yang dilakukan di kandang secara intensif seperti sekarang ini justru melanggar norma bisnis. Pasalnya terdapat tiga bagian dalam bisnis sapi, terdapat peternakan breeding (pembiakan), rearing(pembesaran/pemeliharaan), serta penggemukan.

“Itu norma bisnis yang diatur sedemikian rupa. Sekarang sapi yang harusnya di tempat pengembalaan harus dimasukkan ke kkandang sapi yang sempit yang terjadi adalah biaya produksi menjadi sangat tinggi,” terangnya.

Dia mengkhawatirkan, jika kebijakan ini terus dibiarkan maka akan ada penurunan populasi sapi lantaran adanya pemotongan sapi betina produktif. Bukan hanya itu saja, impor daging pun akan merajalela karena masyarakat di Tanah Air tentunya lebih bergantung terhadap daging impor.

Rochadi mengungkapkan bahwa saat sebuah negara lebih banyak mengimpor daging, maka tidak akan ada nilai tambah yang didapatkan oleh negara tersebut.

“Impor sapi bakalan masih bagus karena ada pupuk dari sini, tenaga kerja dan lainnya. Kalau hanya daging, tidak ada nilai tambah untuk kegiatan ekonomi di Indonesia. itu akan memberikan kondisi yang berbahaya,” jelasnyai.

Rochadi menambahkan bahwa akan lebih baik jika skema impor menggunakan kemitraan yang intensif. Contohnya skema impor yang bukan berdasarkan volume impor melainkan kapasitas kandang.

Misalnya 20% dari kapasitas kandangnya digunakan untuk proses breeding sementara 80% digunakan untuk penggemukan.

Sumber : kontan.co.id


Category: Uncategorized

Tags: , , ,