Siapkan Rp 70 Miliar, Kementerian Kelautan dan Perikanan 'Sulap' Pelabuhan Tak Lagi Kumuh dan Bau

Kondisi dari pelabuhan-pelabuhan di Indonesia

Kumuh, kotor, berantakan, dengan bau amis, itulah kondisi yang identik dengan pelabuhan-pelabuhan perikanan di Indonesia. Akan tetapi kondisi tersebut tidak akan lama lagi akan coba perlahan diubah menjadi lebih baik oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan, Sjarief Wijaya mengatakan bahwa buruknya fasilitas dan kebersihan pelabuhan nelayan di Indonesia itu tentu berimbas pada turunnya kualitas dan harga ikan.

Sjarief Wijaya membandingkan dengan pelabuhan-pelabuhan ikan di negara maju yang saking higienisnya bahkan ikan-ikan dari tangkapan nelayan di pelabuhan itu bisa langsung dimakan mentah tanpa perlu dimasak terlebih dahulu.

“Saya selalu buat ujian ke kepala pelabuhan, bagaimana caranya makan ikan dari lantai pelabuhan? Kalau enggak sanggup makan ya bagaimana itu harus dibuat bersih. Di negara-negara maju lumrah ikan dimakan mentah, kalau kita makan ikan mentah bagaimana kalau lantainya begitu (kotor),” ucapnya di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta.

Dari data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), saat ini ada 816 pelabuhan perikanan yang ada di Indonesia yang meliputi dari skala paling besar yakni 7 pelabuhan perikanan samudra, kemudian 17 pelabuhan perikanan nusantara, 32 pelabuhan perikanan pantai, 12 pangkalan pendaratan ikan, 2 pelabuhan perikanan swasta, dan 746 pelabuhan belum memiliki kelas.

“Di Jepang ikan di pelabuhan bisa dimakan mentah karena higienis. Dari jumlah 816 pelabuhan perikanan itu, sebanyak 483 dianggap masih layak, sementara 333 pelabuhan tidak layak,”  ujar Sjarief.

Dia juga mengungkapkan bahwa pelabuhan-pelabuhan perikanan di Indonesia umumnya berupa bangunan terbuka, akses keluar masuk tidak terbatas, dan fasilitas yang kurang lengkap seperti cold storage, air bersih, IPAL (pengolahan limbah), drainase dan instalasi lainnya.

Dari sisi perilaku pun bisa dikatakan buruk. Itu dikarenakan banyak nelayan yang meletakan ikan di lantai, merokok, ikan dibiarkan di tempat terbuka, sampai membiarkan hewan seperti kucing dan anjing berkeliaran bebas di area penampungan ikan.

“Sisa makanan ada kucing dan anjing berebutan sama kita. Kaki juga bebas dari lumpur naik saja ke TPI, padahal di lantai ada ikan-ikan, ikan tuna padahal mahal tapi ditaruh di tempat panas di luar,” tegas dia.

Hal lain yang menjadi sorotan kementerian yang dipimpin Menteri Susi Pudjiastuti ini yakni jual beli ikan dengan cara yang cukup tradisional.

Pihaknya pun berencana mengubah kebiasaan tersebut dengan membagikan keranjang ikan dengan ukuran tertentu sebagai standar ukur.

“Perilaku dagangnya ada yang jual ikan per kilogram, ada yang per tumpukan, ada yang per keranjang, ada yang per ekor, akhirnya tidak ada standar harga jualnya. Ini situasi yang harus diperbaiki di pelabuhan-pelabuhan perikanan kita,” jelas Sjarief.

Untuk proses perbaikan pelabuhan-pelabuhan perikanan di Indonesia tentunya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menganggarkan alokasi anggaran di tahun 2017 sebesar Rp 70,7 miliar yang meliputi 20 pelabuhan ikan milik daerah dan 16 pelabuhan ikan yang dimiliki pusat.

DOWNLOAD GRATIS:

Ebook Tutorial
e-Faktur Lengkap!

Isi form di bawah ini, ebook akan langsung kami kirim ke alamat email yang Anda gunakan di bawah ini!
KIRIM EBOOK SEKARANG

Category: Berita Bisnis , Berita ekonomi finansial

Tags: , ,