Group HSBC telah merencanakan akan melakukan merger dengan Bank Ekonomi yang rupa-rupanya juga dianggap menjadi momentum yang baik bagi para pengamat ekonomi. Nantinya setelah integrasi dilakukan, maka kedua bank akan beroperasi melalui satu nama perusahaan yaitu PT. Bank HSBC Indonesia. HSBC sendiri pun juga sudah mengakuisisi sekitar 99% dari total saham dari Bank Ekonomi.

Lucky Bayu Purnomo, Analis Danareksa Sekuritas, memprediksi bahwa rencana merger antara kedua bank tersebut akan meningkatkan pertumbuhan bank di atas 21% dalam kurun waktu lima tahun untuk ke depannya berdasarkan perolehan laba, sehingga penggabungan antara The Hong Kong and Shanghai Banking (HSBC) dengan PT Bank Ekonomi Raharja Tbk. menjadi hal yang baik.

Disebutkan bahwa akuisisi di sektor perbankan masih menjadi hal yang agresif serta menarik untuk dilakukan meski membutuhkan dana yang tidak sedikit. “Sudah banyak potret, misal Bank Permata dengan Standard Chartered, Bank OCBC dengan Bank NISP, dan lain-lain,” ucap Lucky, Selasa (18 Oktober 2016).

Menurutnya dengan melakukan merger tersebut maka nilai aset dan buku Bank HSBC akan bertambah, sedangkan bagi Bank Ekonomi sendiri akan mengalami pertumbuhan yang diinginkan. “Ini yang jadi intisari penggabungan. Ke depan, meski terjadi koreksi, saya rasa itu sulit,” tutur beliau.

Merger Bank HSBC dan Bank Ekonomi

Merger Bank HSBC dan Bank Ekonomi

Penggabungan kedua bank besar tersebut di Indonesia rencananya akan selesai pada triwulan kedua 2017. Lucky juga mengatakan bahwa apabila bank ini nantinya akan membidik sektor UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah), maka mereka harus siap dengan segmen usaha yang spesifik dan jelas karena di sektor tersebut terdapat Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang terbukti memiliki marketshare paling besar. Tapi ketika berbicara soal segmentasi, belum pasti bahwa keberhasilan BRI itu dapat sesuai dengan segmennya.

Kesimpulannya, menurut beliau, UMKM bisa saja memperoleh pinjaman dari BRI, akan tetapi akan ada perbedaan pangsa pasar misalnya dari persaingan bunga jika HSBC masuk ke sektor tersebut. Dan jika ingin menarget sektor UMKM ke depan, maka harus pandai dalam menyiasati soal NPL (Non-Performing Loan) sehingga tidak makin tinggi.

“Kelalaian bank tidak menjaga NPL-nya. Kalau dilihat tidak prospektif, ya harus dihindari,” kata Lucky.

Sumber: hsbc.co.id; bisnis.tempo.co


Category: Berita Bisnis , Berita ekonomi finansial , News

Tags: , , , , , ,