Menteri Perindustrian Usulkan Insentif Pajak Terhadap Industri Pengolahan

Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa sektor industri memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional. Sektor industri ini juga berperan besar dalam penyerapan tenaga kerja, kesejahteraan masyarakat, dan penerimaan negara.

Maka dari itu, sektor industri harus terus didukung agar dapat terus berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk itu, Airlangga mengusulkan adanya insentif perpajakan bagi industri. Hal itu dikarenakan, sektor industri pengolahan menyumbang pajak sebesar Rp 224,9 triliun.

“Dengan besarnya pajak yang disumbangkan oleh industri pengolahan, maka saya mengusulkan suatu skema insentif baru untuk industri pengolahan,” ungkapnya saat menyampaikan pidato kunci pada acara diskusi bertajuk “Membangun Industri Berkelanjutan” di Jakarta, Senin (27/11/2017).

Insentif yang diusulkan oleh Airlangga itu diantaranya yakni pengurangan pajak (tax rebate atau tax deduction) sebesar 200 persen untuk belanja yang terkait pelatihan dan pendidikan vokasi. Selain itu, Airlangga juga mengusulkan penurunan pajak sebesar 300 persen untuk belanja yang terkait riset dan pengembangan (research and development) di perusahaan tersebut.

Secara umum, sektor yang diusulkan Airlangga untuk memperoleh insentif pajak adalah terkait inovasi, vokasi, dan industri padat karya berorientasi ekspor. Ketiga sektor tersebut yang akan didorong dalam memacu penciptaan lapangan tenaga kerja dalam negeri.

“Kalau untuk pendidikan vokasi, saya akan minta kalau industri itu melakukan pendidikan vokasi diberikan fasilitas tax allowance 200 persen,” jelasnya.

Lebih lanjut Airlangga menyatakan bahwa insentif perpajakan tersebut masih dalam tahapan pembahasan. Pihaknya sudah membicarakan hal tersebut dengan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati.

Menurutnya, proses negosiasi tersebut diharapkan dapat segera selesai. Dengan demikian, rancangan insentif pajak ini diharapkan dapat selesai sebelum kuartal I 2018.

“Sri Mulyani menyambut positif insentif untuk mendorong ekonomi Indonesia,” tuturnya.

Insentif perpajakan semacam ini sudah diterapkan di Thailand. Di negara tersebut, ada insentif pajak bagi industri berorientasi ekspor, dengan konsentrasi di industri farmasi, herbal, dan kosmetik.

“Kita tidak boleh kalah dengan negara tetangga, termasuk Thailand. Thailand sudah mendorong itu,” terangnya.

Sumber : kompas.com


Category: Berita pajak

Tags: , , ,