Telah diungkapkan sebelumnya bahwa untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara APBN tahun 2017 nanti, penerimaan pajak ditarget sebesar 1.272 triliun rupiah. Banyak yang menganggap jumlah tersebut lebih realistis dibandingkan dengan angka sebelumnya, namun tanpa adanya reformasi perpajakan Indonesia maka akan cukup sulit bagi Negara untuk mendorong perekonomian Indonesia.

Josua Pardede, Ekonom PT. Bank Permata, mengatakan bahwa setelah program pengampunan pajak (tax amnesty) yang sedang dilakukan oleh pemerintah Indonesia ini berakhir, maka reformasi perpajakan secara menyeluruh menjadi sebuah harga mati yang perlu dilakukan.

“Data base dari tax amnesty, didukung dari sistem perpajakan yang baik, bisa mengoptimalisasi penerimaan,” terang Josua pada hari Jumat (28/10/2016). Dia juga menjelaskan bahwa dengan adanya reformasi pajak, maka penerimaan pajak akan lebih optimal sehingga akan meminimalkan potensi kekurangan penerimaan perpajakan (shortfall). Hal tersebut dapat digunakan untuk mendorong ekonomi Indonesia sebab pemerintah masih memiliki ruang fiskal.

Ini Dia Cara yang Diperlukan Untuk Capai Target Pajak 2017

Ini Dia Cara yang Diperlukan Untuk Capai Target Pajak 2017

Data dari APBN Perubahan 2016, shortfall yang terjadi tahun ini diperkirakan berada di kisaran 213 triliun rupiah. Pada akhirnya, defisit anggaran diproyeksikan antara 2,5 – 2,7 persen sampai akhir tahun. Mengingat angka tersebut, maka Josua mengingatkan bahwa situasi yang lalu sudah semestinya dijadikan bahan pembelajaran untuk mengelola keuangan Negara di tahun yang akan datang.

Apalagi menurutnya penerimaan pajak akan tetap menjadi andalan hingga tahun depan. Hal itu dapat dilihat dari lesunya sektor pertambangan yang masuk ke kategori Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), bahkan sampai sekarang belum ada indikasi yang bisa dilihat bahwa sektor itu akan kembali menggeliar tahun mendatang.

“Ekonomi masih slowing. Kami lihat industri pertambangan relatif belum terlalu menggembirakan,” katanya.

Dari perkataan itu semua, Josua menilai bahwa reformasi perpajakan yang harus dilakukan oleh pemerintah tanah air ini dapat meningkatkan penerimaan perpajakan khususnya berkontribusi dalam APBN. Nantinya dapat menjadi stimulus yang baik untuk meningkatkan pertumbuhan. Tapi, ia juga menambahkan perlu adanya kebijakan moneter yang benar agar dapat mengoptimalkan instrumen fiskal.

“Kebijakan moneter sampai saat ini belum ampuh,” ucapnya.

Source: viva.co.id

Save

Save


Category: Berita ekonomi finansial , Berita pajak

Tags: , , , , ,