Inaplas Tentang Wacana Pengenaan Cukai Plastik

Rencana bakal ditariknya cukai produk plastik kembali mencuat. Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) mempertanyakan target dari cukai tersebut.

Sekertasris Jenderal (Sekjen) Inaplas, Fajar Budiono mengungkapkan bahwa cukai tersebut belum mempunyai implementasi penarikan yang jelas. Terlebih, cukai akan semakin memberatkan industri plastik dan kemasan plastik yang sebagian besar didominasi oleh industri menengah ke bawah.

“Hampir 80% itu dari sana (industri menengah ke bawah,” ujar Fajar (12/11/2027).

Fajar menuturkan, ketimbang pemerintah terus menyasar cukai bagi produsen dalam negeri, sebaiknya pemerintah bisa memaksimalkan cukai dan pajak produk plastik impor.

“Jumlah plastik impor itu jelas dan tercatat, tiap tahunnya bisa US$ 2 miliar dengan bobot 800.000 ton,” tuturnya. Dengan jumlah nomor hs 115, menurutnya pemerintah bisa mengawasi keberadaan barang tersebut.

“Karena pengawasan barang beredar itu perlu. Pemangku kebijakan juga perlu turun ke bawah lihat lapangan,” ujarnya.

Walaupun jumlah impor masih kalah dibandingkan dalam negeri yang bisa mencapai 5,6 juta ton per tahun, akan tetapi secara nilai harga plastik impor bisa mencapai US$ 2,5 per kilogram (kg), sedangkan lokal hanya US$ 1,6 per kg.

Dia merasa khawatir kalau cukai tetap kukuh dilaksanakan, maka pelaku usaha cenderung menurunkan kapasitasnya karena beban yang ditanggung akan semakin banyak.

Dengan diturunkan kapasitas, maka hal itu tentunya akan berpengaruh pada jumlah tenaga kerja sektor industri ini. “Terhitung saat ini ada 600.000 tenaga kerja yang berada pada industri ini,” jelasnya.

Inaplas berharap pemerintah bisa menerapkan solusi yang holistik dan parsial. Karena komponen sektor industri ini beragam dan bisa ada multiflier effect.

“Produksi plastik disini kan tidak 100% murni, melibatkan recycle juga. Itu perlu tangan-tangan pemulung,” kata Fajar.

Pemerintah harus memperbaiki manajemen pengelolaan sampah jika memang mau kurangi limbah plastik. Dirinya membandingkan konsumsi plastik di Tanah Air per kapita masih lebih rendah dibandingkan negara maju lainnya.

“Disini hanya 21 kilogram per kapita, sedangkan Singapura bisa 50 kilogram dan Jepang di atas 60 kilogram per kapitanya,” tuturnya.

Sumber : kontan.co.id

DOWNLOAD GRATIS:

Ebook Tutorial
e-Faktur Lengkap!

Isi form di bawah ini, ebook akan langsung kami kirim ke alamat email yang Anda gunakan di bawah ini!
KIRIM EBOOK SEKARANG

Category: Berita pajak

Tags: , , ,