Ekspor Teh Tanah Air Terus Menyusut

Sebagai salah satu dari 10 negara produsen teh dunia, Indonesia terus berupaya untuk mengembangkan pasar ekspor di mancanegara, salah satu yang menjadi tujuannya yakni ke Uni Eropa (UE). Hal itu dikarenakan dalam lima tahun terakhir, produk teh asal Indonesia di UE terus mengalami penurunan sebesar 20%.

Hal ini cukup mengkhawatirkan jika tidak ada upaya serius dari pemerintah Indonesia untuk mengatasi persoalan turunnya ekspor teh ke Benua Biru tersebut.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan mengatakan bahwa turunnya ekspor teh ke UE dikarenakan kebijakan impor UE yang menghambat ekspor teh ke kawasan.

Pasalnya, ada peraturan Komisi Eropa Nomor 1146 tahun 2014 yang diterbitkan UE pada 23 Oktober 2014 yang lalu dan mulai berlaku pada 18 Mei 2015. Dalam regulasi tersebut mensyaratkan ambang batas residu AQ dalam daun teh kering sebesar 0,02 miligram (mg) per kilogram (kg).

“Alasannya untuk melindungi konsumen teh dari bahaya penyakit yang bersifat karsinogenik,” ujarnya, Minggu (3/12/2017).

Oke menjelaskan bahwa sebenarnya ambang batas AQ tersebut hanya ditentukan secara default dengan menggunakan batas terendah dari suatu metode analisis untuk penetapan kadar.

Adapula, penentuan ambang batas ini tidak berdasarkan analisis risiko karena tidak ditemukan dokumen analisis risiko untuk AQ yang dilakukan European Food Safety Authority.

Oke mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya tengah melaksanakan advokasi bertajuk Indonesia Tea Trade Mission (ITTM) Ke UE dari tanggal 3 – tanggal 9 pekan ini. Harapannya, misi ini dapat meminimalisasi hambatan ekspor teh asal Tanah Air ke UE, sehingga ekspor teh di kawasan ini kembali berjaya. Beberapa kota yang disinggahi adalah Hamburg, London dan Brussel.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ekspor teh Indonesia terus mengalami penurunan. Jika pada tahun 2014 lalu, ekspor teh senilai US$ 134 juta, turun menjadi US$ 126 juta pada 2015, dan pada 2016 hanya US$ 113 juta.

Maka dari itu, pemerintah perlu meningkatkan promosi produk teh Indonesia. Seperti yang dilakukan Konsulat Jenderal RI (KJRI) untuk Karachi, Pakistan, Dempo Awang Yuddie. Promosi diperlukan karena ekspor teh ke Pakistan turun pada 2016 sebesar 60,4% atau US$ 4,9 juta dari 2015 sebesar US$ 12,4 juta.

Sumber: Harian Kontan


Category: Ekspor Impor

Tags: , , , ,