DJP: 96 WNI Tercatat dalam “Dokumen Surga”

Direktur Potensi, Kepatuhan, dan Penerimaan Pajak Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Yon Arsal mencatat setidaknya ada 96 wajib pajak (WP) asal Indonesia yang namanya tertera dalam Dokumen Surga.

Dokumen Surga merupakan kumpulan dari 13,4 juta dokumen tentang pengusaha yang diam-diam berinvestasi di luar negeri, di tempat yang dinamakan sebagai surga pajak (tax haven) dan berarti uang hasil investasinya terhindar dari pajak.

“Dari 96 WP itu, 62 WP di antaranya sudah ikut pengampunan pajak (tax amnesty),” ujar Yon saat ditemui di kantornya, Senin (27/11/2017).

Pihaknya juga mencatat, pada tahun 2016 lalu hanya ada 64 WP yang melaporkan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) pajaknya. Petugas pajak masih melakukan penyelidikan dan uji validitas terhadap semua data tersebut.

Jumlah WP asal Indonesia dalam Dokumen Surga tidak hanya berhenti sampai di situ. Ada kemungkinan jumlah tersebut bertambah lebih banyak yang akan diteruskan dengan tindak lanjut penyelidikan oleh petugas pajak.

Sebelumnya, didapati tiga nama pengusaha asal Indonesia yang tercantum dalam Dokumen Surga tersebut. Mereka adalah Prabowo Subianto dan dua anak mantan presiden SoehartoTommy dan Mamiek.

Dalam dokumen tersebut, nama Tommy Soeharto tercatat pernah menjadi direktur dan bos dewan Asia Market Investment. Perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang terdaftar di Bermuda pada tahun 1997 dan tutup pada tahun 2000.

Konsorsium Jurnalis Investigatif juga melihat ada kesamaan alamat dengan perusahaan lain yang dimiliki oleh Tommy Soeharto. Perusahaan itu yakni Asia Market serta V Power, di mana dua perusahaan itu terdaftar di Bahama.

Tommy Soeharto dengan rekannya dari Australia turut membuka perusahaan yang berupa iklan jalan di negara bagian Victoria di Australia, Filipina, Malaysia, Myanmar, dan China.

Kemudian perusahaan itu ditutup di Bermuda pada tahun 2003 dan disebut sebagai pengemplang pajak oleh firma hukum di Bermuda, Appleby.

Sedangkan, Mamiek Soeharto dikatakan sebagai wakil presiden Golden Spike Pasiriaman Ltd sekaligus pimpinan Golden Spike South Sumatera Ltd dengan rekannya Maher Algadri yang merupakan salah satu konglomerat terbesar di Indonesia pada zaman kepemimpinan Soeharto.

Selanjutnya, nama Prabowo Subianto disebut pernah menjabat sebagai direktur dan wakil pimpinan Nusantara Energy Resources yang kantornya berada di Bermuda.Terdaftar pada tahun 2001 dan ditutup pada tahun 2004. Perusahaan tersebut menyandang status sebagai perusahaan penunggak utang.

Prabowo juga disebut memiliki sebagian perusahaan Nusantara Energy Resources di Singapura yang merupakan bagian dari Nusantara Group.

Sumber : kompas.com


Category: Berita pajak

Tags: , , ,