Dengan AEoI, Menteri Keuangan Siap Buru Rp 2.067 Triliun Harta WNI

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, pemerintah akan mengejar aset atau harta Warga Negara Indonesia senilai Rp 2.067 triliun yang disembunyikan di luar negeri dengan cara penerapan pertukaran informasi keuangan secara otomatis (Automatic Exchange of Information/AEoI).

Harta tersebut tidak diungkap dalam program pengampunan pajak atau tax amnesty.

Saat Rapat Kerja dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat RI tentang Perppu Nomor 1 Tahun 2017, Sri Mulyani menuturkan bahwa dari pelaksanaan program tax amnesty, total deklarasi aset WNI di dalam maupun luar negeri mencapai Rp 4.881 triliun.

“Harta senilai Rp 4.881 triliun selama ini tidak disampaikan di dalam formulir Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan,” ujar Sri Mulyani di Gedung DPR, Jakarta, Senin (29/5/2017).

Sri Mulyani juga menjelaskan bahwa dari aset atau harta yang diungkap pada program tax amnesty, didominasi oleh kas setara kas, surat-surat investasi, maupun surat berharga senilai Rp 3.008,3 triliun atau 58,6 persen. Sebesar Rp 2.093,1 triliun merupakan deklarasi aset di dalam negeri.

Ia menuturkan, data ini menunjukkan bahwa selama ini Ditjen Pajak tidak mampu atau memiliki keterbatasan untuk mengakses data keuangan Wajib Pajak (WP) di dalam negeri, dan menjadi penyebab stagnasi rasio pajak.

“Keterbatasan akses informasi keuangan memberi kontribusi terhadap rendahnya rasio pajak di Indonesia yang cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir, di samping karena kondisi perekonomian yang melemah,” tegas Sri Mulyani.

Sementara itu, total deklarasi harta WNI di luar negeri dalam program tax amnesty sebesar Rp 1.036 triliun. Sebagian besar aset tersebut di parkir di lima negara, yakni Singapura Rp 766,05 triliun, British Virgin Island (BVI) senilai Rp 77,5 triliun, Hong Kong Rp 58,17 triliun, Cayman Island Rp 53,14 triliun, dan Australia Rp 42,04 triliun.

Sedangkan hasil repatriasi atau aset yang dibawa pulang ke Indonesia senilai Rp 147 triliun. Paling banyak berasal dari lima negara atau yurisdiksi, yakni Singapura Rp 85,35 triliun, BVI Rp 6,57 triliun, Cayman Island Rp 16,51 triliun, Hong Kong Rp 16,31 triliun, dan China Rp 3,65 triliun.

Selanjutnya Sri Mulyani mengungkapkan data studi McKinsey Desember 2014 mengenai asset under management, ada US$ 250 miliar atau sekitar Rp 3.250 triliun harta kekayaan milik orang-orang kaya Indonesia di luar negeri.

Dari angka tersebut, dia menjelaskan bahwa senilai US$ 200 miliar atau sekitar Rp 2.600 triliun disimpan di Singapura. Dana sebesar US$ 150 miliar berupa deposito, saham, dan pendapatan tetap.

“Total deklarasi aset di luar negeri dan repatriasi Rp 1.183 triliun, sehingga masih diperkirakan ada potensi Rp 2.067 triliun aset WP Indonesia yang disimpan di luar negeri belum diungkapkan di program pengampunan pajak,” ungkap Sri Mulyani.

Ketimpangan atau gap ini menunjukkan ketimpangan besar terkait kemampuan Dirjen Pajak memajaki orang-orang kaya ini dan masih adanya kemampuan WP menyembunyikan asetnya lantaran belum ada AEoI.

“Untuk mengatasi ketimpangan tersebut, Indonesia harus memperoleh informasi keuangan dari negara lain berdasarkan asas timbal balik dalam rangka AEoI. Karena dengan itu, Indonesia akan memperoleh informasi keuangan milik WNI yang disimpan di luar negeri, termasuk aset WP yang belum dilaporkan di tax amnesty, maupun SPT PPh,” paparnya.

DOWNLOAD GRATIS:

Ebook Tutorial
e-Faktur Lengkap!

Isi form di bawah ini, ebook akan langsung kami kirim ke alamat email yang Anda gunakan di bawah ini!
KIRIM EBOOK SEKARANG

Category: Berita pajak

Tags: , , ,