Pemerintah mengajak langsung masyarakat yang masuk ke dalam kategori miskin terlibat langsung dalam berusaha. Mereka yang berada di bawah tingkat kemiskinan nasional seringkali tidak mendapatkan kesempatan untuk terlibat langsung dalam proses bisnis yang terus berkembang.

Asisten Deputi V Bagian Logistik Kemenko Perekonomian Erwin Raza mengungkapkan, masyarakat yang memiliki penghasilan di bawah US$ 3 per hari atau US$ 450 per bulan mencapai 71% dari total penduduk di Indonesia. Mereka yang termasuk ke dalam kategori ini bekerja di sektor informal yang tidak cukup untuk mendongkrak kondisi ekonomi mereka.

“Peran sektor swasta dibutuhkan untuk menciptakan pekerjaan-pekerjaan dalam skala besar dengan penghasilan lebih tinggi bagi masyarakat yang berada di bottom of pyramid,” ujar Erwin dalam Workshop Nasional Bisnis Inklusif di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.

Dalam hal ini, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian telah membuat Kelompok Kerja (Pokja) Inovasi dan Bisnis Inklusif di tahun 2016 lalu. Pokja ini dibuat dengan tujuan untuk mengembangkan konektivitas dari desa ke pasar kota dan global, terutama untuk komoditas pertanian, perikanan dan UMKM.

“Pemerintah telah lakukan banyak hal untuk menggerakan sektor informal adalah menggerakan sektor UMKM. Beberapa kebijakan menyangkut sektor UMKM ada program KUR, KUR berbasis ekspor, PNPM, menciptakan iklim kondiusif melalu regulasi, penjaminan usaha mikro serta memperbesar akses perkreditan bagi lembaga keuangan,” ujar Erwin.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan, acara kali ini membahas bagaimana membuat bisnis lebih inklusif atau lebih besar dirasakan manfaatnya bagi masyarakat yang berada di kelompok bawah. Ia mencontohkan, bagaimana meningkatkan pendapatan petani tanpa membuat harga pangan menjadi mahal.

Dalam hal ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika mendukung adanya limakilo.id yang menyediakan beberapa bahan pangan melalui website yang bisa dipesan langsung pembeli. Bahan pangan mulai dari bawang merah, wortel, minyak goreng hingga paket sembako didapatkan langsung dari petani yang bermitra dengan limakilo.

“Salah satunya bagaimana meningkatkan pendapatan petani tapi bisa manage tidak meningkatkan harga beli di konsumen akhir, contoh petani bawang aplikasinya limakilo,” ujar Rudiantara.

Dengan demikian, rantai pasok yang begitu panjang dari petani ke pembeli bisa dipangkas. Sehingga uang yang harus dikeluarkan pembeli bisa berkurang.

“Semuanya cara baru ini menggunakan teknologi. Kami dari Kominfo sediakan teknologi ini sampai ke pelosok Indonesia melalui palapa ring sampai ke petani-petani,” tutur Rudiantara.

Sumber: detikFinance


Category: Berita ekonomi finansial

Tags: , , ,