Bank Dunia Sebut Perekonomian Indonesia Positif, Apa Saja Indikatornya?

World Bank atau Bank Dunia mencatat sejumlah tren positif perekonomian Indonesia pada kuartal ketiga 2017. Frederico Gil Sander, Ekonom Bank Dunia menilai bahwa tren itu bisa menjadi pendorong percepatan ekonomi Indonesia di tahun 2018 mendatang.

“Sektor manufaktur mulai mendominasi perekonomian Indonesia dan kinerja ekspor membaik, ini kondisi yang bagus,” ujar Frederico dalam acara Indonesia Economic Quarterly 2017 di Jakarta, Kamis (14/12/2017).

Frederico mengatakan bahwa tren yang positif tersebut juga terjadi terhadap investasi di sektor mesin dan peralatan. Menurutnya, investasi mesin dan peralatan, khususnya di sektor tambang, mayoritas terkait dengan aktivitas ekspor. “Ini hal yang bagus seiring dengan perbaikan harga komoditas,” katanya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat tren positif yang sama pada kuartal ketiga 2017. Pertumbuhan ekonomi Tanah Air mencapai 5,06 persen, atau membaik dari kuartal pertama dan kuartal kedua 2017, yang hanya sebesar 5,01 persen.

Frederico menyatakan, pada paruh pertama 2017 atau semester pertama, tingkat konsumsi masyarakat Indonesia memang beberapa kali tercatat menurun. Beberapa faktor yang menjadi penyebab penurunan tersebut, seperti kenaikan tarif listrik untuk pelanggan volt-ampere (VA). “Ini cukup berdampak bagi konsumsi masyarakat,” ungkapnya.

Selain itu, penurunan konsumsi terjadi setelah diterapkannya kebijakan pengampunan pajak (tax amnesty). Hal itu dikarenakan, pemerintah mendorong masyarakat semakin taat pajak untuk mendongkrak penerimaan negara di sektor ini.

Namun, pada kuartal ketiga, tingkat konsumsi kembali mengalami perbaikan, terutama karena adanya momentum hari raya Idul Fitri. Faktor lain adalah menurunnya angka pengangguran hingga 5,5 persen pada Agustus 2017 dan pergerakan rupiah yang stabil.

Meski demikian, dengan tren positif ini, Bank Dunia memprediksi ekonomi Indonesia pada 2018 masih akan tumbuh sedang. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) diprediksi sekitar 5,3 persen, lebih rendah 0,1 persen daripada target pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar 5,4 persen.

Penerimaan negara juga diperkirakan berada di level Rp 1.886 triliun, sedikit lebih rendah daripada target pemerintah yakni sekitar Rp 1.895 triliun.

Sumber : tempo.co


Category: Berita ekonomi finansial

Tags: , , ,