Direktur Utama Adira Insurance, Julian Noor, menjelaskan umumnya asuransi yang digunakan dalam aset bangunan hanya untuk meng-cover kebakaran. Namun para pemilik aset, khususnya bagi korporasi atau perusahaan, disarankan untuk meng-upgrade asuransi tersebut agar bisa meng-cover bencana alam seperti gempa bumi.

“Kalau untuk korporasi, jadi artinya properti untuk korporasi perusahaan-perusahaan, memang sebaiknya ambil jaminan yang juga termasuk gempa. Karena kan pilihannya orang bisa saja hanya untuk kebakaran, tapi sebaiknya mengambil included gempa. Bisa jadi polisnya dalam bentuk property all risk,” kata Julian.

Sementara untuk bangunan-bangunan pribadi seperti rumah tinggal atau ruko kecil, kata Julius, harus dipikirkan baik-baik apakah tempat tinggalnya berada di daerah yang rawan bencana seperti gempa.

Bila menjadi bagian di daerah yang rawan gempa, maka Julius menyarankan untuk bisa mengambil asuransi yang meng-cover bencana.

“Kalau rumah tinggal biasa, ruko sederhana, sangat tergantung apakah dia termasuk dalam daerah rawan atau tidak. Kalau yang tidak rawan, misalnya Kalimantan di Indonesia itu sangat rendah karena tidak ada Gunung Merapi dan lainnya mungkin tidak diperlukan. Tapi kalau yang rawan gempa sebaiknya mereka memperluas dengan jaminan kerusakan akibat gempa, itu sudah termasuk meng-cover tsunami sebagai bagian dari paket,” jelasnya.

Sama halnya dengan bangunan, asuransi untuk kendaraan juga bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk meng-cover bencana. Umumnya, asuransi kendaraan hanya bisa meng-cover apabila kendaraan tersebut hilang ataupun kecelakaan, namun pengguna jasa juga bisa meningkatkan layanannya agar jaminannya agar bisa meng-cover bencana alam.

“Untuk kendaraan cover-nya musti dilihat juga. Karena kalau di luar kecelakaan biasa, termasuk banjir itu harus ditambahkan sendiri. Artinya dalam asuransi kendaraan itu tidak semua risiko dijamin, yang dijamin adalah ketika kendaraan kecelakaan atau hilang. Di luar itu apakah banjir dan lainnya bisa ditambahkan lagi, tapi sangat tergantung dari kembali lagi, dia membutuhkan risiko apa untuk di-cover,” jelasnya.

Yang terpenting, kata Julian, para pemilik properti maupun kendaraan yang mengalami kerusakan akibat bencana alam seperti gempa, harus mengecek terlebih dahulu apakah asuransi yang digunakannya juga bisa meng-cover kejadian alam tersebut.

“Perhatikan apakah polis asuransinya ada tambahan cover untuk gempa bumi. Bila memang ada jaminan tambahan gempa bumi maka segera laporkan ke perusahaan asuransi penerbit polis,” pungkasnya.

Sumber: detikFinance


Category: Berita Bisnis

Tags: , , ,