Setoran Pajak 2018 Dipatok Rp 1.423 Triliun, Bisakah Tercapai?

Di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2018, penerimaan negara dipatok sebesar Rp 1.894,7 triliun atau lebih tinggi sebesar Rp 16,2 triliun dari yang diajukan.

Target penerimaan negara tersebut terdiri dari penerimaan dalam negeri sebesar Rp 1.893,5 triliun dan hibah sebesar Rp 1,19 triliun.

Dari target penerimaan negara yang sebesar Rp 1.894,7 triliun, sekitar Rp 1.618,1 triliun yang berasal dari perpajakan atau tumbuh sekitar 10% dibandingkan APBN tahun 2017.

Setoran pajak di tahun 2018 ditargetkan mencapai Rp 1.423,9 triliun. Sementara itu, untuk penerimaan bea masuk ditargetkan sebesar Rp 35,7 triliun dan bea keluar sebesar Rp 3 triliun. Cukai sendiri di tahun 2018 ditargetkan bisa mencapai Rp 155,4 triliun.

Pengamat Perpajakan dari Danny Darussalam Tax Center (DDTC), Darussalam mengungkapkan bahwa penerimaan pajak di tahun 2018 mendatang sebesar Rp 1.423,9 triliun bisa dicapai, atau paling tidak mendekati target penerimaan.

“Penerimaan pajak 2018 agak lebih naik bahkan jauh lebih baik dari tahun sebelumnya,” ujar Darussalam dalam acara Sarasehan 100 Ekonom di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Selasa (12/12/2017).

Darussalam meyakini bahwa penerimaan pajak di tahun depan bisa lebih baik bahkan cenderung diperkirakan bakal mencapai target karena dilakukannya program pengampunan pajak (tax amnesty) tahun lalu. Dilakukannya tax amnesty tahun depan bisa meningkatkan basis pajak yang berimbas terhadap peningkatan penerimaan pajak di 2018 mendatang.

“Pengampunan pajak kemarin modal dasar penting banyak dilakukan negara kepada ketidakpatuhan wajib pajak. Ini yang akan menopang basis lajak ke depan, sumber pajak dan objek pajak tidak kalah penting,” uangkapnya.

Selain itu, dengan adanya sistem Pertukaran Informasi secara Otomatis (Automatic Exchange of Information/AEoI).

Dengan diberlakukannya sistem AeoI tersebut, maka wajib pajak tidak akan bisa lagi menyembunyikan kekayaannya untuk menghindari kewajiban perpajakannya, meskipun wajib pajak menyimpan kekayaan tersebut di luar negeri.

“Dua modal dasar besok adalah tahun politik, tapi konteks penerimaan pajak situasinya berbeda,” tutur Darussalam.

Sumber : detik.com


Category: Berita pajak

Tags: , , , ,