Jurus Pemerintah Jokowi agar RI Kurangi Impor Selama 3 Tahun

Dalam dua tahun terakhir, Pemerintah Joko Widodo (Jokowi) mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5-5,1 persen.

Berbagai upaya terus dilakukan untuk menangkal Indonesia dari  kepanasan ekonomi (overheating), yakni laju impor lebih tinggi dibanding ekspor.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengungkapkan bahwa pemerintah tengah memacu pembangunan infrastruktur yang menyebar secara merata di seluruh Indonesia.

Walaupun belum selesai seluruhnya, namun pemerintah tetap akan mendorong penyebaran kawasan infrasruktur industri, antara lain Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), kawasan industri dan kawasan pariwisata strategis nasional.

“Kita sudah meletakkan dasar dengan membangun infrastruktur untuk berkembang lebih cepat dan merata. Ekonomi pemerintah orde baru ditandai pertumbuhan tinggi, tapi sebentar-sebentar overheating,” ungkapnya di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (11/12/2017).

Darmin menjelaskan, jika terjadi overheating ekonomi, maka Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun proyek-proyek pembangunan akan dipangkas atau dikurangi guna mendinginkan kondisi tersebut.

Menurutnya, Overheating adalah sebuah keadaan pertumbuhan ekonomi tinggi dan langsung diiringi pertumbuhan impor yang lebih cepat. Jika laju impor lebih tinggi dibanding ekspor, maka akan terjadi defisit neraca perdagangan.

“Oleh karena itu, pemerintah mengidentifikasi hulunya. apa saja yang harus dimulai sehingga tidak rentan impor kalau pertumbuhan ekonomi naik,” ujarnya.

Ada tiga kelompok industri yang menjadi perhatian pemerintah di sektor hulu. Ia menyebut, pertama industri besi dan baja. Industri ini memiliki turunan sampai ke hilir yang dibutuhkan sekali oleh setiap sektor industri yang berkembang.

“Kami mendorong supaya Krakatau Steel dipasangkan dengan perusahaan besar dari Korea, yakni Posco supaya dia bisa menjawab terhadap hasil besi dan baja,” katanya.

Kedua, industri petrokimia. Menurutnya, Indonesia mempunyai kesempatan besar untuk mengembangkan industri petrokimia pada tahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi, kesempatan ini tidak bisa dimanfaatkan secara maksmimal. Padahal industri ini sangat strategis terkait dengan pipa, plastik, poliester, farmasi, dan lainnya.

“Itu sebabnya pemerintah berjuang keras mendorong investor masuk ke proyek tersebut ke Tuban dan Cilacap. Di proyek petrokimia Tuban, ada Rosneft dari Rusia dan Aramco dari Saudi Arabia berinvestasi di petrokimia Cilacap. Hasilnya memang belum keluar, tapi prosesnya sedang berjalan,” jelasnya.

Ketiga, industri basic chemical yang sebagian besar produknya untuk industri farmasi. “Kita mengeluarkan banyak sekali uang untuk Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Aneh kalau uangnya kita biarkan bocor ke luar,” tegasnya.

Sumber: liputan6.com


Category: Ekspor Impor

Tags: , , ,