Menakar Efek Pajak AS ke Pasar Indonesia

Amerika Serikat (AS) kembali menyedot perhatian pelaku pasar dunia. Senat AS baru saja meloloskan Rancangan Undang-Undang (RUU) reformasi pajak yang digulirkan oleh Presiden Donald Trump.

Inti dari kebijakan pajak AS tersebut adalah tarif pajak penghasilan (PPh) perusahaan yang saat ini 35% akan dipangkas menjadi 20%. Ada pula ketentuan yang memungkinkan sejumlah perusahaan mengembalikan keuntungan ratusan miliar dollar AS di luar negeri pada tingkat lebih rendah daripada yang seharusnya mereka bayar.

Penurunan tarif PPh ini jelas menjadi perhatian para pelaku pasar dunia, termasuk Indonesia. Hal itu dikarenakan, kebijakan tersebut bisa membuat investor asing mengalihkan uangnya ke AS lantaran kinerja emiten di sana bisa kian moncer, sehingga pertumbuhan pasar modal AS bakal terus meningkat.

Pelaku pasar sepakat, pasar finansial Tanah Air bisa terimbas kebijakan pajak AS tersebut. Meskipun hanya bersifat sementara dan terbatas.

Analis Fixed Income MNC Sekuritas, I Made Adi Saputra menilai bahwa kebijakan dari negeri Paman Sam itu dapat mempengaruhi posisi dana asing di surat berharga negara (SBN). Hingga 30 November 2017, kepemilikan asing di SBN mencapai Rp 830,91 triliun. Angka ini naik Rp 165,10 triliun dibandingkan posisi asing pada akhir tahun 2016 lalu yang senilai Rp 665,81 triliun.

Akan tetapi, analis obligasi BNI Sekuritas Ariawan mengatakan bahwa fundamental ekonomi dalam negeri masih stabil. Dengan demikian, efeknya ke pasar obligasi Indonesia tidak akan besar.

Ariawan pun memperkirakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) maupun inflasi di tahun depan tidak akan jauh berbeda dari saat ini. “Kestabilan ekonomi bisa menjadi tameng terhadap sentimen eksternal,” ujarnya.

Ekonom Bank BCA David Sumual juga menilai bahwa kebijakan pajak AS hanya akan berefek sementara terhadap mata uang rupiah. Hal itu dikarenakan, pasar domestik sudah mengantisipasi hal ini sejak lama.

“Kalau sudah benar-benar disahkan, mungkin ada rally sedikit karena sesuai ekspektasi pasar dan ada potensi volatilitas pada rupiah,” ujar David.

Saat ini justru pelaku pasar menunggu bagaimana bank sentral AS The Federal Reserve bereaksi atas reformasi pajak ini. Demikian pula di pasar saham. “Efeknya hanya jangka pendek,” ujar Nico Omer Jonckheere, VP Research & Analysis Valbury Asia Futures.

Dalam jangka panjang, bursa saham negara berkembang seperti Indonesia diperkirakan bakal tetap lebih menarik lantaran pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) lebih besar dan utangnya lebih kecil.

Sumber: Harian Kontan


Category: Berita pajak

Tags: , , ,