Soal Ketentuan Batasan Impor Hortikultura, Kementan Lakukan Penyesuaian

Kementerian Pertanian (Kementan) akan melakukan penyesuaian sejumlah kebijakan terkait Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) melalui revisi Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 16 Tahun 2017, setelah Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) memenangkan gugatan Amerika Serikat dan Selandia Baru.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura Kementerian Pertanian Yasid Taufik menjelaskan bahwa Kementan telah berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag) terkait dengan putusan WTO.

Hortikultura (horticulture) berasal dari bahasa Latin hortus yang berarti tanaman kebun dan cultura/colere yang berarti budidaya, dan dapat diartikan sebagai budidaya tanaman kebun. Kemudian hortikultura digunakan secara lebih luas bukan hanya untuk budidaya di kebun. Istilah hortikultura digunakan pada jenis tanaman yang dibudidayakan.

Pemerintah akan menyesuaikan sejumlah kebijakan nasional dengan ketentuan WTO. Namun demikian, pemerintah juga tetap akan mempertahankan sejumlah kebijakan yang terkait Undang-Undang.

Penyesuaian yang dilakukan terkait dengan persyaratan wajib memiliki tempat penyimpanan bagi importir melalui revisi Permentan Nomor 16 Tahun 2017 tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura yang kini tengah dibahas.

Melalui revisi diatas tersebut, importir nantinya dapat menyewa tempat penyimpanan hortikultura sebagai syarat untuk pengajuan impor.

Namun demikian, pemerintah tetap mempertahankan ketentuan periode impor yang hanya diperbolehkan setelah masa panen karena terkait dengan UU Nomor 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura. Selain itu, pemerintah juga tetap mempertahankan ketentuan pemasukan hortikultura tidak boleh melebihi 6 bulan setelah panen. Hal itu dikarenakan dapat menyangkut persoalan keamanan pangan.

“Kami akan memberi penjelasan bahwa produk hortikultura setelah melewati 6 bulan pasca panen akan mengalami penurunan kualitas yang menyangkut keamanan pangan,” ujar Yasid Taufik.

Adapun, sejumlah ketentuan lain telah disesuaikan tertuang dalam Permentan Nomor 16 Tahun 2017. Diantaranya, masa berlaku RIPH berlaku menjadi selama 1 tahun dari yang sebelumnya dibatasi hanya 6 bulan.

Selain itu, pendaftaran RIPH dilakukan sepanjang tahun, dari yang sebelumnya hanya dibuka dua kali dalam setahun untuk pemasukan Januari-Juli dan Juli-Desember. Permentan tersebut juga tidak lagi mengatur harga referensi cabai dan bawang merah.

“Yang digugat ketentuan dalam Permentan Nomor 86 Tahun 2013 tentang Hortikultura. Pemerintah telah menyesuaikan dengan terbitnya Permentan Nomor 16 Tahun 2017. Dan akan dilakukan penyesuaian lanjutan melalui revisi Permentan tersebut,” imbuhnya.

Sumber : bisnis.com


Category: Ekspor Impor

Tags: , , ,