Singapura Akan Menaikkan Pajak

Pemerintah Singapura tengah bersiap untuk menaikkan pajak. Meskipun belum secara terperinci, namun sejumlah opsi telah disiapkan Pemerintah Singapura untuk mengerek pendapatan pajak.

Salah satu opsi tersebut yakni dengan menaikkan tarif pajak good and services tax (GST) atau pajak barang dan jasa. Singapura terakhir kali merevisi tarif pajak barang dan jasa tersebut pada tahun 2007 silam. Saat itu tarif pajak tersebut dinaikkan dari 5% menjadi 7% dan berlaku hingga sekarang.

Indranee Rajah selaku Pejabat senior Kementerian Hukum dan Keuangan Singapura menolak memberi penjelasan spesifik soal rencana kenaikan tarif pajak barang dan jasa di negaranya tersebut.

“Yang pasti, rencana kenaikan pajak itu, semua harus berdasarkan aktivitas ekonomi yang solid,” ujar Rajah seperti yang dikutip dari Bloomberg. Menurutnya, ekonomi Singapura sedang dalam kondisi yang bagus.

Survei Bloomberg menyebutkan bahwa pertumbuhan Singapura mencapai tingkat tertinggi dalam empat tahun terakhir yakni sebesar 5% yang tercapai pada kuartal III-2017. Lee Hsien Loong selaku Perdana Menteri Singapura pekan lalu mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi tahun ini lebih dari 3% atau melewati proyeksi.

Sinyal kenaikan pajak disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Singapura pada pekan lalu. Lee mengatakan bahwa belanja pemerintah di bidang kesehatan, infrastruktur dan layanan sosial terus mengalami peningkatan. Kebutuhan menaikkan pajak untuk membiayai itu hanya masalah waktu saja.

Ekonom UOB Francis Tan mengatakan bahwa tarif GST adalah satu-satunya yang belum tersentuh dalam waktu lama. “Nah, itu peluru yang bisa digunakan,” ujarnya seperti dikutip Channel NewsAsia.

Kenaikan tarif GST akan menjadikan Singapura setara dengan negara-negara lain seperti Jepang yang memiliki tarif GST 8%, Korea Selatan, Thailand, Vietnam dan Indonesia yang masing-masing mengenakan tarif 10%

Rajah juga menjelaskan bahwa GST telah lama membantu penduduk berpenghasilan rendah. GST telah melindungi perekonomian Singapura dari kemerosotan. “Kami harus tetap mencoba dan kompetitif. Tapi pada saat yang sama, Anda harus menyesuaikan kebutuhan belanja beberapa item besar dan memastikan bahwa pendapatan tetap mengalir dari beberapa lini,” ujarnya.

Selain GST, Rajah memberikan sinyal, area e-commerce akan menjadi sasaran basis pajak. Saat ini, pembeli online tidak dikenai pajak pembelian asalkan pesanan tidak melebihi S$ 400.

Sumber: Harian Kontan


Category: Berita pajak

Tags: , , ,