ESDM gandeng Bea Cukai percepat produksi migas

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Minyak dan Gas Bumi (Migas) baru saja melakukan Penandatanganan Nota Kesepahaman dengan Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Ego Syahrial selaku Direktur Jenderal (Dirjen) Migas Kementerian ESDM mengatakan bahwa kerja sama ini bertujuan untuk mensinergikan penggunaan teknologi sistem informasi dalam rangka pemberian fasilitas fiskal untuk kegiatan usaha hulu migas.

“Kami dari Kementerian ESDM sangat menyambut atas inisiatif ini karena ini merupakan tujuan utama kami membuat industri hulu migas kita kembali on the track,” ujar Ego dalam keterangannya, pada Kamis (16/112017).

Heru Pambudi selaku Dirjen Bea dan Cukai mengungkapkan bahwa dengan kerja sama ini, maka pemerintah akan memberikan insentif pembebasan bea masuk barang impor untuk Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dan pembebasan pajak barang impor baik Pajak Pertambahan Nilan (PPN) maupun Pajak Penghasilan (PPh) impor.

Dengan langkah sinergi tersebut, diharapkan nilai impor bisa lebih besar.  “Penerimaan negara kami tingkatkan dan kalau ada cost recovery kami efisiensikan,” kata Heru.

Ego menuturkan bahwa pemerintah saat ini tengah berupaya untuk meningkatkan produksi migas. Sebab, kebutuhan minyak Indonesia mencapai 1,6 juta barel per hari. Namun, produksi minyak hanya mencapai sekitar 800.000 barel per hari.

Dengan kondisi tersebut, Indonesia harus mengimpor sekitar 800.000 minyak per hari. Dana yang dibutuhkan untuk mengimpor minyak mencapai Rp 1 triliun- Rp 1,5 triliun per hari. Apalagi untuk memproduksi minyak dibutuhkan waktu yang lama. Pasalnya, rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi minyak dari suatu lapangan migas mencapai 10 tahun.

Maka dari itu, dengan adanya kerja sama dengan Bea Cukai, ia berharap ada percepatan produksi minyak dalam negeri. Apalagi saat ini ada beberapa proyek hulu migas yang strategis seperti proyek IDD di Bangka Selat Makassar dan proyek Tangguh Train 3 yang masing-masing nilai investasinya sebesar US$ 8 miliar.

Selain itu ada proyek Lapangan Tiung Biru, dan yang terbesar itu pengembangan Lapangan Masela yang ada di Timur Indonesia dengan nilai investasinya sebesar US$ 15 miliar – US$ 16 miliar.

Sumber : kontan.co.id


Category: Berita Bisnis

Tags: , , ,