Pemerintah Targetkan Impor 400 Ribu Mobil Listrik di 2025

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan pada tahun 2025 sekitar 400 ribu unit kendaraan low carbon emission vehicle (LCEV) atau mobil listrik sudah masuk pasar Indonesia.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa untuk mencapai hal tersebut, pihaknya sedang mendorong produsen otomotif mulai memproduksi mobil listrik, seperti PT Nissan Motor Indonesia yang saat ini telah mengembangkan mobil listrik Nissan Note e-Power.

“Tenaganya powerful karena engine full electric vehicle (EV). Tadi coba sampai kecepatan 80 kilometer per jam. Kalau dari sisi otomotifnya sudah layak, apalagi dengan EV yang emisinya lebih rendah, tentu pemerintah akan dukung,” ujarnya.

Airlangga mengatakan bahwa mobil listrik dengan teknologi hybrid, diharapkan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca sekaligus mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM) karena menggunakan energi listrik sebagai bahan bakarnya.

Menurutnya, diversifikasi BBM ke arah bahan bakar gas, bahan bakar nabati, atau tenaga listrik merupakan jawaban atas kebutuhan energi di sektor transportasi. Produksi dan penggunaan bahan bakar alternatif secara langsung ini dapat pula menghasilkan aktivitas dan manfaat ekonomi yang inklusif, terutama di daerah yang kaya akan sumber energi tersebut.

Akan tetapi, dia menyebut bahwa hingga saat ini infrastruktur untuk stasiun pengisi tenaga listrik belum tersedia di Tanah Air. Sehingga teknologi hybrid menjadi salah satu solusinya. Dimana dengan teknologi ini kendaraan bisa menggunakan dua sumber energi yakni BBM dan listrik. Maka dari itu, produsen di Indonesia saat ini akan lebih diperkenalkan dengan teknologi hybrid.

Sementara itu, I Gusti Putu Suryawirawan selaku Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (Ilmate) mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan pasar otomotif terbesar di Asia Tenggara. Pada tahun 2016 lalu, industri otomotif di Tanah Air memproduksi 1,1 juta unit mobil.

“Aktivitas usaha sektor otomotif, mulai sektor hulu yang meliputi industri bahan baku dan industri perakitan kendaraan bermotor, hingga sektor hilir, seperti jasa purnajual dan pembiayaan, sangat besar kontribusinya terhadap perekonomian nasional,” terangnya.

Oleh karena itu, industri otomotif menjadi salah satu sektor yang diprioritaskan pengembangannya sesuai dengan Kebijakan Industri Nasional.

Putu menambahkan bahwa dengan kapasitas produksi nasional sebesar 2,2 juta unit mobil per tahun, industri otomotif di Indonesia perlu memaksimalkan potensi tersebut agar memiliki daya saing yang lebih tinggi.

Potensi kapasitas produksi tersebut dapat dimaksimalkan untuk pengembangan produksi kendaraan LCEV serta menggunakan platform yang memenuhi kebutuhan domestik sekaligus permintaan pasar ekspor ke seluruh dunia.

“Peningkatan pada utilisasi kapasitas produksi industri dalam negeri, investasi baru dan perluasan, transfer teknologi, penyerapan tenaga kerja, serta tingkat komponen dalam negeri merupakan tujuan yang harus kita wujudkan bersama,” tuturnya.

Sumber : tempo.co


Category: Ekspor Impor

Tags: , , ,