Perusahaan Laba Besar Bayar Pajak Lebih Besar

Perusahaan besar pencetak laba tebal akan disisir dan disasar pajak. Dinamisasi pajak merupakan istilah yang dipakai oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang bertujuan sebagai upaya ekstra (extra effort) untuk mengejar kekurangan penerimaan pajak sampai akhir tahun.

Akn tetapi, Yon Arsal selaku Direktur Potensi Kepatuhan dan Penerimaan DJP mengatakan bahwa dinamisasi pajak ini berbeda dengan sistem ijon pajak. Hal itu dikarenakan dalam dinamisasi pajak hanya akan menyasar perusahaan yang mencetak laba tebal yang bertujuan untuk menambah setoran pajak dan mempercepat pembayaran pajak di sisa tahun 2017 ini.

Yon mengungkapkan, dinamisasi penerimaan pajak sedang dilakukan pada saat ini, termasuk juga upaya pengawasannya. Menurutnya, dinamisasi penerimaan pajak hanya akan menyasar industri yang kinerjanya tumbuh signifikan, seperti industri di sektor tambang, industri pengolahan, dan perdagangan.

“Jika wajib pajak layak menaikkan setoran, kami imbau dia untuk menaikkan setoran,” ujarnya, Selasa (14/11/2017).

Berdasarkan catatan DJP, setoran pajak pada semua sektor usaha tersebut di triwulan III-2017 mengalami peningkatan yang signifikan. Sektor pertambangan menjadi yang paling besar dengan nilai Rp 31,66 triliun atau tumbuh 30%. Kemudian sektor industri dengan nilai sebesar Rp 224,95 triliun atau tumbuh 16,63% dibanding periode sama pada tahun lalu.

Saat ini DJP sedang gencar melakukan upaya ekstra untuk mengejar penerimaan negara di akhir tahun. Apalagi per Oktober 2017, realisasi penerimaan perpajakan baru mencapai Rp 991,2 triliun atau 67,3% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2017.

Berdasarkan data yang diterima, penerimaan yang didapatkan dari pajak sebesar Rp 858,05 triliun atau 66,8% dari target Rp 1.283,57 triliun. Sementara penerimaan bea dan cukai sebesar Rp 126,94 triliun atau 67,11% dari target.

Meskipun realisasinya 66,8% dari target, akan tetapi penerimaan pajak akan tetap tumbuh 13% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Yon menuturkan, penerimaan pajak tumbuh 13% setelah disesuaikan dengan penerimaan dari program tax amnesty dan penilaian aset tetap yang menambah penerimaan Rp 16 triliun di tahun lalu.

Dengan total realisasi penerimaan negara Oktober 2017 sebesar Rp 1.238,2 triliun sementara belanja negara Rp 1.537,1 triliun, defisit APBNP 2017 sebesar Rp 298,9 triliun atau 2,2 % terhadap produk domestik bruto (PDB).

“Sekitar 2%, sampai akhir tahun bisa 2,67% seperti outlook,” ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Suahasil Nazara.

Kendati defisit membesar, Direktur Pengelolaan Strategi dan Utang Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Scenaider Siahaan menyatakan, pemerintah belum berniat menambah utang. “Pajak masih on the track, masih naik. Belanja biasanya peak di Desember,” katanya.

Sumber: Harian Kontan

DOWNLOAD GRATIS:

Ebook Tutorial
e-Faktur Lengkap!

Isi form di bawah ini, ebook akan langsung kami kirim ke alamat email yang Anda gunakan di bawah ini!
KIRIM EBOOK SEKARANG

Category: Berita pajak

Tags: , , ,